⛄ Rumah Tradisional Sumatera Selatan Tts

Infoterbaru rumah dijual di Sumatera Selatan juga yang disewakan. Sedang jual beli atau cari tanah, apartemen dan properti lain di daerah Sumatera Selatan? lempok duren hingga tekwan yang merupakan sup tradisional dari bola-bola ikan. Iklim Sumatera Selatan memiliki iklim tropis basah dengan curah hujan antara 1.500 hingga 3.200 mm per Padarumah tradisional Sumatera Selatan rakit tidak memiliki banyak ruangan. Hanya terdapat 3 runagan yang berfungsi untuk menerima tamu, tempat istirahat, dan tempat RumahDijual di Jakarta Selatan Rumah Dijual di Jakarta Barat Rumah Dijual di Jakarta Timur Rumah Dijual di Jakarta Utara Rumah Dijual di Jakarta Pusat. Sumatera. Rumah Dijual di Bandar Lampung Rumah Dijual di Medan Rumah Dijual di Batam. Disewa. Tipe Properti Dekat pasar tradisional timbul n swalayan fortuna 5 menit kampus UI dan Rumahtradisional Sumatra Selatan: Limas: Pertanyaan TTS Terkait. sumatra barat sumatra timur sumatra utara korea selatan lintang selatan jakarta selatan. TTSpedia merupakan situs RumahKingking. 7. Rumah Ulu. Sumatera Selatan memiliki berbagai macam budaya yang unik dan khas. Salah satunya ialah rumah adat Sumatera Selatan, yang Dipasangoleh Arif Rakhman, rumah dijual seharga Rp 890 Juta berlokasi di Pamulang, Tangerang Selatan dengan rata-rata cicilan 6 jutaan per bulan. Download Aplikasi Rumah123. Tentang Rumah123 Berita Panduan Beri Saran. Dijual. Tipe Properti. Rumah. Rumah. DKI Jakarta. Rumah Dijual di Jakarta Selatan Rumah Dijual di Jakarta Barat Rumah . Rumah Adat Sumatera Selatan – Rumah adat merupakan bangunan tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia. Salah satu rumah adat Indonesia berasal dari daerah Sumatera Selatan. Di Sumatera bagian Selatan tersebut terdapat berbagai jenis rumah adat Sumatera Selatan. Setidaknya, telah ada 9 jenis rumah adat yang menjadi kekayaan Provinsi Sumatera Selatan. Setiap bangunan khas tersebut dibangun dan dihuni oleh masyarakat setempat, dan menjadi ciri khas serta identitas bagi masyarakat Sumatera Selatan. Lantas bagaimana kesembilan jenis rumah adat Sumatera Selatan? Bagaimana keunikan dari ketujuh rumah tradisional tersebut? Untuk mendapatkan jawabannya, yuk kita simak artikel ini sampai tuntas ya. Rumah Adat Sumatera Selatan Rumah Adat Sumatera Selatan Rumah adat merupakan salah satu warisan budaya para leluhur bangsa Indonesia. Salah satu rumah adat di Indonesia berasal dari provinsi Sumatera Selatan. Rumah adat Sumatera Selatan merupakan rumah adat yang banyak dibangun dan dihuni oleh masyarakat setempat. Arsitektur Rumah Adat Sumatera Selatan Secara umum, masyarakat yang banyak menghuni provinsi Sumatera Selatan dibagi menjadi dua kelompok etnik, yaitu etnik uluan dan etnik iliran. Etnik Uluan biasa bertempat tinggal di hulu Batanghari Sembilan, sedangkan kelompok etnik Iliran banyak menempati hilir Batanghari Sembilan, yang saat ini dikenal dengan Palembang. Kedua suku ini kemudian membangun bangunan tradisional yang kemudian menjadi bangunan khas dan memiliki keunikan tersendiri. Bahkan tidak jarang bangunan-bangunan tersebut menjadi identitas bagi suku yang mendiami. Kedua etnik tersebut kemudian membentuk dua arsitektur bangunan tradisional yang utama di provinsi Sumatera Selatan, yakni arsitektur rumah Uluan dan rumah Iliran. Arsitektur Rumah Uluan Arsitektur Rumah Uluan Arsitektur ini biasa digunakan sebagai rumah adat yang mendiami daerah dataran tinggi di Provinsi Sumatera Selatan. Umumnya, rumah-rumah uluran memiliki persamaan pada bentuk bangunan yang berupa rumah panggung dan ditopang dengan tiang penyangga yang tinggi. Rumah Uluan sendiri dibedakan menjadi 4 jenis bangunan, yaitu Besemah Rumah adat jenis ini dapat dijumpai di Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, dan daerah Sumatera lainnya. Umumnya rumah jenis ini adalah rumah panggung yang berbentuk persegi, memiliki ketinggian 1,5 meter sampai 2 meter dari atas permukaan tanah. Rumah ini dilengkapi dengan atap piabung dan tiang penopang bangunannya tiang duduk diletakkan di atas batu. Rumah Besemah dapat dibagi menjadi empat macam rumah adat, yaitu Rumah Tatahan, Rumah Kilapan, Rumah Padu Kingking atau Padu Kingking, serta Rumah Padu Ampagh. Semende Rumah Semende sendiri merupakan rumah adat Suku Semende, yang mempunyai bentuk bangunan hasil transformasi Rumah Besemah. Rumah adat Semende masih dapat ditemukan di Kabupaten Muara Enim. Bangunan ini memiliki ciri khas berupa sekat-sekat yang terletak di ruang induk dan lebih banyak memiliki jendela. Rumah Semende ini juga disebut dengan Rumah Tunggu Tabang karena pemindahtanganan rumah ini hanya dapat dilakukan dengan proses Tunggu Tabang yang sesuai dengan sistem matrilineal yang diyakini masyarakat setempat. Ogan Rumah adat ogan merupakan rumah hasil transformasi Rumah Besemah. Bangunan ini merupakan rumah tradisional dari Suku Ogan yang tinggal di tepian Sungai Ogan, Sumatera Selatan. Rumah adat yang banyak ditemui di daerah Ogan Komering Ulu. Bangunan tradisional ini memiliki ciri khas berupa penambahan tritisan yang ditopang oleh tiang-tiang. Dilengkapi dengan atap yang tidak melengkung. Serta, memiliki lantai antar-ruangan yang sama tingginya. Komering Rumah adat Komering sendiri dapat dibagi menjadi dua macam, yakni rumah Ulu Komering dan rumah Lamban Tuha atau Lambanan Tuha. Rumah Ulu Komering merupakan rumah adat yang dihuni suku Komering. Rumah Ulu Komering memiliki ciri khusus di bagian atapnya yang berbentuk atap pelana tanpa patahan. Sementara itu, juga terdapat persilangan listplank pada ujung atap. Serta memiliki tiang yang ditanam ke dalam tanah. Kemudian, jenis rumah Lamban Tuha merupakan rumah adat suku Ranau. Keunikan dari bangunan ini adalah berbentuk rumah panggung dan dilengkapi dengan atap tinggi yang berjenis pelana kuda dan kemiringan sebesar 45 derajat. Arsitektur Rumah Iliran Arsitektur Rumah Iliran Arsitektur rumah Iliran dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu rumah Limas, rumah Rakit, dan rumah Gudang. Rumah Limas merupakan arsitektur rumah iliran yang dibangun di daratan dan biasa diperuntukkan bagi para bangsawan. Sedangkan, rumah Rakit merupakan rumah yang dibangun di atas permukaan air, seperti sungai dan danau. Sedangkan rumah Gudang merupakan rumah yang paling banyak dapat ditemui di Sumatera Selatan. Hal ini dikarenakan bangunan tradisional ini tergolong ke dalam tipe bangunan hunian oleh masyarakat pada umumnya. 9 Jenis Rumah Adat Sumatera Selatan Terdapat beragam rumah adat yang berasal dari Sumatera Selatan. Setidaknya terdapat 9 jenis rumah adat yang ada di Sumatera Selatan. Kesembilan rumah tersebut diantaranya adalah rumah adat Tatahan, rumah adat Padu Ampar, rumah adat Padu Kingking, rumah adat Ulu Ogan, rumah adat Ulu Komering, rumah adat Cara Gudang, rumah adat Limas, rumah adat Kilapan, dan rumah adat Rakit. Untuk mengetahui bagaimana penjelasan lengkap dari kesembilan rumah adat Sumatera Selatan tersebut, dapat diamati di bawah ini. No Rumah Adat Sumatera Selatan 1 Rumah Adat Tatahan 2 Rumah Adat Padu Ampar 3 Rumah Adat Padu Kingking 4 Rumah Adat Ulu Ogan 5 Rumah Adat Ulu Komering 6 Rumah Adat Cara Gudang 7 Rumah Adat Limas 8 Rumah Adat Kilapan 9 Rumah Adat Rakit Rumah Adat Tatahan Rumah Adat Tatahan Rumah adat Tatahan merupakan rumah adat yang memiliki bentuk bujur sangkar dengan konsep rumah panggung yang dibangun dan dihuni oleh masyarakat Suku Besemah Rumah Tatahan juga dikenal dengan rumah Besemah. Nama bersemah memiliki makna pahatan. Pahatan tersebut merujuk pada ukiran lukisan di rumah tradisional yang dipahat. Sejak tahun 1977, diperkirakan telah berdiri sekitar 40 bangunan rumah tradisional ini di Desa Bangke, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Lahat. Akan tetapi pada tahun 2017, bangunan khas ini hanya tersisa 13 bangunan saja. Pada umumnya rumah adat Tatahan yang ditopang kayu setinggi 1,5 meter sampai 2 meter. Tiang penopang rumah tersebut dibuat dari bahan kayu tembesu dan kayu telat yang memiliki karakteristik daya tahan yang cukup kuat dan tahan lama. Kolong rumah tersebut biasa digunakan sebagai tempat untuk menyimpan kayu bakar. Selain itu kolong rumah juga kerap digunakan sebagai pelindung penghuni rumah dari binatang buas tidak masuk ke dalam rumah. Bagian atap rumah tradisional ini dibuat dari material pohon aren dan kerangkanya menggunakan bambu. Pada bagian depan mirip dengan rumah tradisional orang Minangkabau yang runcing seperti tanduk. Rumah adat Tatahan dibangun dengan dibagi menjadi 4 bagian ruang. Keempat ruang tersebut diantaranya adalah ruang sangkar atas, sangkar bawah, bagian depan, dan ruang bagian tengah. Rumah adat Sumatera Selatan ini dihiasi dengan ukiran rumah. Motif ukiran yang menghiasi rumah tradisional tersebut biasa berbentuk motif bunga, misalnya bunga matahari dan bunga teratai. Motif bunga ini digambar dengan posisi vertikal dan horizontal. Bunga dengan posisi vertikal melambangkan doa dan harapan pemilik rumah agar rezeki mereka bertambah. Sedangkan, bunga horizontal melambangkan nilai persatuan dan gotong royong. Motif lainnya berupa bentuk lingkaran atau bubulan yang biasa dipahat di bagian samping dinding rumah Tatahan. Motif ini merupakan lambang dari kebersamaan antar sesama penghuni rumah. Serta pada bagian tengah bubulan ditambahkan lubang untuk mengintip keadaan di luar rumah. Rumah Adat Padu Ampar Rumah Adat Padu Kingking Rumah adat Sumatera Selatan berikutnya adalah rumah Padu Ampar. Rumah tradisional ini juga masih di desain dengan konsep rumah panggung dengan arsitektur bangunan dari bahan yang dapat diperoleh dari alam. Rumah tradisional ini merupakan bangunan yang hampir keseluruhan bagian bangunan dibangun dari bahan material bambu. Seperti pada bagian atasnya yang dibuat dari bambu. Atapnya dibuat sedikit melengkung semacam pelana kuda dan berbentuk trapesium yang bernama piabung. Karena rumah tradisional ini mengusung konsep rumah panggung, sehingga bangunan rumah dilengkapi dengan tiang penopang dan juga tangga yang terbuat dari bambu. Bangunan ini memiliki bentuk tidak berundak pada bagian lantainya, sehingga terlihat seperti tidak memiliki sangkar bawah maupun sangkar atas. Rumah Adat Padu Kingking Rumah Adat Padu Kingking Rumah adat Sumatera Selatan selanjutnya adalah rumah Adat Padu Kingking. Rumah adat Sumatera ini banyak dibangun dan dihuni oleh suku Pasemah. Arsitektur bangunan Padu Kingking berupa rumah panggung dengan kombinasi bahan material berupa kayu dan bambu yang khas. Umumnya bangunan ini berbentuk bujur sangkar Rumah Padu Kingking dilengkapi dengan atap yang dibagi menjadi dua bagian. Setiap bagian atap disebut dengan gelumpai. Bagian gelumpai ini disusun dari potongan bambu yang rapi. Karena konsep bangunan khas ini adalah rumah panggung, maka rumah tradisional ini perlu adanya tiang penyangga untuk menopang agar rumah dapat berdiri tegak. Tiang-tiang tersebut juga merupakan tiang duduk. Disebut dengan tiang duduk, karena tiang-tiang ini hanya ditancapkan di atas batu. Jenis tiang yang seperti dapat membantu meredam rumah agar tidak bergetar ketika terjadi bencana gempa bumi melanda daerah tersebut. Rumah adat Padu Kingking memiliki ruangan yang hampir menyerupai rumah adat Tatahan. Bangunan khas ini dibagi menjadi beberapa bagian ruang. Bagian ruang meliputi ruang bagian depan, ruang bagian tengah, dan ruang bagian belakang. Rumah Adat Ulu Ogan Rumah Adat Ulu Ogan Rumah adat Sumatera Selatan selanjutnya adalah rumah Ulu Ogan. Rumah khas ini merupakan rumah dari suku Ogan yang bermukim di daerah Kabupaten Ogan, Komering Ulu. Rumah adat Ulu Ogan merupakan rumah yang dibangun bahan material alami. Bahan-bahan ini didapatkan dari alam dan masih serba kayu. Bangunan khas Sumatera Selatan ini memiliki ciri khas pada atapnya, yakni terdapat tambahan atap tritisan yang berada di bagian depan atau bagian samping atap tersebut. Atap tritisan sendiri ditopang oleh tiang dan penempatannya disesuaikan dengan kebutuhan pemilik rumah. Di sisi lain, atap rumah Ulu Ogan juga tidak melengkung semacam atap rumah tradisional Sumatera lainnya. Rumah Ulu Ogan juga dilengkapi dengan lantai yang memiliki ketinggian yang sama antara bagian satu dengan bagian lainnya. Lantai ini merupakan lantai panggung yang ditopang tiang kayu selayaknya desain rumah panggung pada umumnya. Rumah Adat Ulu Komering Rumah Adat Ulu Komering Rumah adat Sumatera Selatan berikutnya adalah rumah adat Ulu Komering. Rumah ini dibangun dan dihuni oleh suku Komering dan suku Ogan Komering Ulu Timur. Saat ini, rumah Ulu Komering masih dapat dijumpai di daerah Minanga, Cempaka, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Bangunan khas Sumatera ini memiliki ciri khas dengan memiliki atap berbentuk pelana yang sedikit terdapat lekukan. Di sisi lain, bangunan ini mengusung konsep panggung yang ditopang dengan tiang. Tiang-tiang tersebut ditanam ke dalam tanah. Rumah Adat Cara Gudang Rumah Adat Cara Gudang Rumah adat Cara Gudang merupakan salah satu rumah adat Sumatera Selatan yang cukup unik. Pasalnya bangunan ini memiliki bentuk rumah yang memanjang menyerupai bentuk gudang dengan panggung. Rumah adat Sumatera ini memiliki tiang penopang setinggi 2 meter, dengan bentuk atap yang berbentuk limas segi empat, dan tidak dilengkapi dengan kekijing. Rumah cara gudang dibangun dengan bahan material dari kayu berkualitas. Kayu-kayu tersebut meliputi kayu unglen, kayu petanang, dan kayu trembesi. Bangunan khas Cara Gudang dibagi menjadi 3 bagian ruang, meliputi bagian depan, bagian tengah, dan bagian belakang. Bagian depan rumah merupakan ruang yang memiliki kegunaan sebagai tempat berkumpul dan istirahat bagi seluruh anggota keluarga serta digunakan sebagai acara kenduri. Sementara bagian tengah berfungsi sebagai tempat untuk menjamu tamu khusus. Biasanya tamu yang dijamu di bagian ruang ini adalah tamu yang telah berusia tua dan/atau tamu yang dihormati. Serta bagian belakang merupakan bagian yang berfungsi sebagai kamar, dapur, dan ruang dalam. Kamar ini biasa digunakan oleh kepala keluarga sebelum nantinya digantikan oleh anak perempuannya yang telah dewasa. Rumah Adat Limas Rumah Adat Limas Rumah adat Limas merupakan rumah adat khas Sumatera Selatan. Dinamakan rumah limas karena bangunan ini memiliki atap yang berbentuk limas. Masyarakat setempat juga menyebutnya dengan rumah Bari. Konstruksi dari rumah Limas mengusung konsep rumah panggung. Selain itu, lantai rumah Limas dibuat bertingkat-tingkat yang kemudian dinamakan Bengkilas. Rumah adat Limas dapat dijumpai di daerah Sumatera Selatan. Sedangkan di Malaysia, rumah Limas dapat dijumpai di Johor, Selangor, dan Terengganu. Rumah adat Limas memiliki luas sekitar 400 sampai 1000 meter persegi bahkan lebih. Bangunan tradisional tersebut dibangun dengan bahan material dari kayu unglen atau ulin. Dinding, pintu dan lantai rumah Limas umumnya terbuat dari kayu tembesu dan dihias dengan ukiran khas Palembang. Serta kerangka rumah adat Limas dibuat dari bahan kayu seru. Rumah ini terdapat banyak jendela yang berukuran besar. Atap rumah adat Limas dihiasi dengan ornamen simbar yang dibuat berbentuk tanduk dan melati. Bunga melati tersebut merupakan simbol keagungan dan kerukunan, sedangkan simbar dua tanduk merupakan simbol Adam dan Hawa. Di sisi lain terdapat juga simbar dengan tiga tanduk yang merupakan simbol matahari, bulan, dan bintang. Simbar dengan empat tanduk merupakan simbol sahabat nabi. Serta simbar dengan lima tanduk merupakan lambang rukun Islam. Selain sebagai hiasan pada bagian atap rumah, simbar juga berfungsi sebagai penangkal petir bangunan tradisional tersebut. Pada salah satu lantai rumah limas, dapat dijumpai ruang pangkeng, amben tetuo, dan amben keluarga. Amben merupakan balai yang digunakan untuk musyawarah. Amben tetuo merupakan amben yang digunakan sebagai tuan rumah terima tamu kehormatan. Rumah Adat Kilapan Rumah Adat Kilapan Rumah adat Kilapan merupakan salah satu rumah adat Sumatera Selatan. Rumah Kilapan memiliki bentuk yang menyerupai rumah Tatahan, yakni tergolong rumah Baghi dengan ciri khusus dinding yang polos. Rumah Kilapan merupakan rumah panggung dengan ketinggian sekitar 1,5 sampai 2 meter. Tiang penyangga rumah ini disebut dengan tiang duduk yang ditancapkan di atas batu, sehingga tidak ditanam ke dalam tanah. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dapat meredam getaran ketika terjadi bencana alam gempa bumi. Di samping itu, bangunan khas ini tidak memiliki sekat untuk membagi ruangan rumah tersebut. Jika memang terdapat sekat, sekat ini digunakan sebagai pembatas ruang dengan alat perabotan rumah tangga, seperti alat dapur, peralatan pertanian, maupun alat pertukangan. Akan tetapi, saat ini rumah Kilapan lebih banyak diberi sekat untuk membentuk bagian ruang berupa kamar untuk tidur para anggota keluarga. Rumah Adat Rakit Rumah Adat Rakit Rumah adat Sumatera Selatan selanjutnya adalah rumah Rakit. Saat ini rumah khas ini dapat dijumpai di pinggiran sungai Musi. Rumah khas Bangka Belitung ini merupakan bangunan warisan masyarakat keturunan Tionghoa. Dahulu, bangunan ini pertama kali ditemukan di Sumatera Selatan yang kemudian menjadi cikal bakal rumah adat Bangka Belitung saat ini. Rumah Rakit ini diyakini sebagai bangunan tertua di Sumatera Selatan. Bahkan beberapa menyebutkan bahwa bangunan tersebut telah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya berkuasa. Nama rumah rakit sendiri diambil dari bentuk bangunan tradisional ini yang memiliki struktur bangunan menyerupai bentuk rakit yang lengkap. Banyak masyarakat yang memiliki rumah adat rakit tersebut bermata pencaharian di lingkungan perairan, seperti sepanjang aliran sungai. Rumah Rakit tidak hanya digunakan sebagai hunian bagi masyarakat setempat, melainkan bangunan ini juga biasa digunakan sebagai alat transportasi untuk menyeberangi sungai atau bahkan ke tempat lainnya dengan menyusuri aliran sungai. Rumah adat Sumatera ini diikat dengan tali yang dihubungkan dengan tonggak di tepian sungai dan disangga oleh beberapa tiang yang ditancapkan ke dalam dasaran sungai. Keunikan dari bangunan ini adalah meskipun berada di atas air, lantai dari bangunan ini didesain tidak sampai basah terkena air. Bahan material dari bangunan Rakit adalah bambu khusus yang dikenal dengan bambu Manyan. Bambu Manyan merupakan bambu dengan ukuran besar dan memiliki daya tahan yang kuat di medan perairan. Orang juga bertanya Pakaian adat Sumatera Selatan apa? Apa tarian adat Sumatera Selatan? Bagaimana bentuk rumah limas Sumatera Selatan? Apa rumah adat sumatera barat? Penutup Demikian penjelasan mengenai rumah adat Sumatera Selatan. Setidaknya terdapat 9 rumah adat yang berasal dari provinsi Sumatera Selatan yang memiliki keunikan tersendiri dan menjadi warisan bangsa Indonesia. Semoga dengan membaca artikel ini semakin menambah wawasan kita dan tentunya menambah rasa cinta kita kepada budaya bangsa kita, Indonesia. Rumah Adat Sumatera SelatanSumber Refrensi Sumber andalatourism Daftar, penjelasan dan gambar Rumah Adat Sumatera Selatan. Sumatera Selatan, sebuah provinsi yang dikenal akan destinasi wisatanya. Banyak pelancong berbondong-bondong datang dari berbagai daerah untuk bisa berlibur di sini. Beberapa tempat yang bisa dikunjungi adalah Sungai Musi, Kota Pagaralam, Pulau Kemaro, dan Jembatan Ampera. Selain itu, Anda juga dapat melakukan eduwisata dengan mengunjungi dan mempelajari ragam Rumah Adat Sumatera Selatan. Bukan hanya Rumah Limas, Sumatera Selatan ternyata memiliki tujuh rumah adat! Sampai saat ini pun, masyarakat masih terus memperlihatkan rasa bangga akan rumah adat tersebut sehingga banyak ditemui di berbagai titik Sumatera Selatan. Kira-kira apa saja? Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya Rumah Adat Sumatera Selatan Suku Palembang Rumah Adat Sumsel terbagi akan dua suku, yakni Suku Palembang dan Pasemah. Sesuai namanya, Suku Palembang ini berlokasi di Kota Palembang. Dulunya, kota ini memang dikelilingi sungai dan rawa. Maka dari itu, gaya rumah adatnya berbentuk rumah panggung. Apa saja? Lihat Lengkap Proyek Perumahan Puri Bintaro Residence Rumah Limas Gambar Rumah Adat Sumatera Selatan Rumah Limas Sumber seringjalan Sebagaimana yang disebutkan di atas, Rumah Limas menjadi rumah adat yang paling terkenal di Sumatera Selatan. Limas adalah sebuah akronim dari “lima emas”. Masyarakat juga sering menyebutnya sebagai Rumah Bari yang bermakna rumah tua. Rumah Adat Limas Sumatera Selatan banyak ditemukan di Palembang dan Baturaja, untuk upacara adat atau pernikahan. Arsitektur Rumah Adat Limas Sumatera Selatan Rumah Limas berbentuk panggung, tetapi tidak terlalu tinggi. Tiang penyangganya hanya sepanjang sampai 2 meter dari permukaan tanah. Terdapat tangga undak kekijing untuk masuk ke dalam pintu rumah. Kekijing pada Rumah Limas biasanya berjumlah 2 sampai 4 buah. Pada bagian lain seperti lantai, material yang digunakan adalah kayu tembesu. Tiang menggunakan kayu unglen dan kerangka rumah menggunakan kayu seru. Luar atau dalam rumah, Anda juga akan melihat ornamen yang digunakan untuk menangkal petir. Ornamen ini disebut Ornamen Simbar. Tidak sembarangan, biasanya penghuni meletakkan jumlah simbar sesuai rukun islam, yakni lima buah. Cek Juga Proyek Properti Royal Cempaka Bagian Rumah Limas Ternyata Rumah Adat Limas Sumatera Selatan terbagi akan beberapa ruangan, berikut penjelasannya Ruang Utama Pagar Tenggalung Ruang ini tepatnya adalah beranda depan. Tidak memiliki dinding sehingga anggota keluarga atau tamu dapat bersantai sambil merasakan angin yang berhembus. Pagar tenggalung ini dapat dinaiki dari sisi kanan atau kiri rumah. Sebelum naik, di bawah tangga terdapat gentong berisi air untuk Anda cuci kaki dan tangan. Ruang Kedua Jogan Ruangan ini berada di ruang tengah. Digunakan untuk para pria berkumpul. Ruang Ketiga Kekijing Ketiga Ruangan ini digunakan untuk tamu dalam upacara adat. Ruang Keempat Kekijing Keempat Ruangan ini memiliki lantai yang lebih tinggi dari kekijing ketiga. Fungsinya sama, untuk menerima tamu dalam upacara adat. Hanya saja, kekijing keempat digunakan untuk tamu yang lebih dekat seperti keluarga besar, orang yang dituakan dan datuk dapunto. Ruang Kelima Gegajah Gegajah adalah ruangan paling istimewa pada Rumah Limas. Luasnya pun paling besar jika dibandingkan dengan ruang lainnya. Ada ruang pangkeng, amben tetuo dan amben keluarga. Dalam upacara adat, biasanya digunakan untuk menerima tamu utama. Kalau untuk pernikahan, ruangan ini digunakan untuk pelaminan pengantin. Dapur Rumah Limas juga dilengkapi dapur. Uniknya, dapur ini terbagi tiga. Pertama digunakan untuk menyiapkan bahan-bahan. Bagian kedua untuk mengolah bahan menjadi masakan. Dan ruangan ketiga digunakan untuk mencuci peralatan masak. Cek Juga Rumah Dijual di Tebing Tinggi Termurah Rumah Rakit Gambar Rumah Adat Sumatera Selatan Rumah Rakit Sumber daerahkita Rumah adat dari Sumatera Selatan selanjutnya adalah Rumah Rakit. Uniknya, rumah ini terapung di atas sebuah rakit yang disusun dari balok dan potongan bambu. Bagaimana cara menjangkau rumah ini? Pada bagian depan rumah terdapat jembatan yang terhubung langsung ke daratan. Sementara kalau ingin berkunjung ke rumah yang ada di sebelahnya, biasanya menggunakan perahu. Arsitektur Rumah Rakit Sumatera Selatan Mengetahui Rumah Rakit terapung, apakah tidak tenggelam atau hanyut? Tenang, pada tiap sudut rumah dipasang tonggak yang diikat dengan tali rotan. Kemudian tonggak tersebut ditancapkan ke tebing sungai sehingga aman untuk dipijak. Atap rumah adat ini disebut sebagai Atap Kajang. Berbeda dari yang lain, atap ini hanya terdiri dari dua bidang saja. Pintunya pun juga hanya dua, yakni pintu yang menghadap tepi sungai dan tengah sungai. Nah sementara pada jendela, Rumah Rakit memiliki lebih dari dua jendela. Ditempatkan di kanan kiri rumah, serta di sebelah pintu sejajar. Lihat Juga 6 Rumah Adat Sumatera Utara & Gambarnya, Yuk Cek! Rumah Cara Gudang Gambar Rumah Adat Sumsel Rumah Cara Gudang Sumber berbol Rumah adat yang berasal dari Sumatera Selatan ketiga ada Rumah Cara Gudang. Nama Cara Gudang diambil karena bentuknya memanjang seperti gudang. Jika dibandingkan dengan Rumah Adat Sumatera Selatan lain, Rumah Gudang lebih diminati masyarakat lokal, terutama yang tinggal di dekat Sungai Musi. Hal tersebut dikarenakan rumah adat ini lebih mudah dirawat. Arsitektur Rumah Cara Gudang Sumatera Selatan Rumah Gudang Sumatera Selatan ini tidak jauh berbeda dengan Rumah Limas. Persamaan yang dapat dilihat adalah pada atap. Selain itu, bentuknya pun sama, menyerupai panggung dengan ketinggian sampai 2 meter juga. Tetapi perbedaan yang dapat dilihat adalah bahwa Rumah Cara Gudang tidak memiliki kekijing. Dari material yang digunakan untuk pembangunan, rumah ini menggunakan kayu berkualitas seperti kayu unglen, tembesu atau petanang. Mereka disusun dengan baik sehingga kokoh berdiri sampai waktu lama. Rumah Ulu Sumber 1001indonesia Sekarang ini, Rumah Ulu sudah semakin jarang ditemukan. Padahal, rumah ini tahan terhadap gempa. Jika Anda ingin menemukan Rumah Ulu, coba eksplor daerah Sungai Musi karena menjadi rumah adat khas masyarakat yang tinggal di sana. Arsitektur Rumah Ulu Sumatera Selatan Proses pembangunan Rumah Ulu memakan banyak waktu. Hal tersebut dikarenakan sebelum pembangunan, ada peraturan ulak-ulak yang harus dipatuhi dan disepakati bersama. Material Rumah Ulu adalah kayu berkualitas. Dan seperti yang disebut di atas, rumah ini memang tahan gempa karena kayu penopangnya adalah batang pohon unglen. Bagian Rumah Ulu Terdapat tiga bagian ruangan pada Rumah Ulu, berikut adalah penjelasannya Bagian Depan Seperti rumah pada umumnya, bagian depan adalah tempat untuk menjamu dan menerima tamu. Ada garang atau lintut yang digunakan keluarga untuk bersantai di sore hari. Bagian Tengah Bagian tengah Rumah Ulu digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Tetapi ruangan ini terbagi 3 bagian lagi. Pertama ada Haluan yang merupakan tempat tidur laki-laki. Kakudan yang merupakan tempat tidur perempuan. Dan Gedongan yang biasa digunakan untuk memberi wejangan antar anggota keluarga. Bagian Belakang Bagian belakangan adalah tempat untuk memasak. Selain itu, alat tani dan kebun juga diletakkan di sini. Rumah Adat Sumatera Selatan Suku Pasemah Berbeda dari Suku Palembang, Suku Pasemah tinggal di daerah pegunungan atau dapat dibilang lebih banyak daratannya. Terdapat tiga rumah adat Suku Pasemah. Berikut ini penjelasannya Rumah Kilapan Sumber mangabay Rumah Kilapan Sumatera Selatan adalah rumah adat tradisional yang tidak memiliki ukiran pada dinding. Atau lebih jelasnya, dinding rumah ini halus seperti rumah biasa. Tetapi jangan salah, proses penghalusan dinding dilakukan dengan alat khusus bernama ketam atau sugu. Bentuk rumah adat ini berbentuk panggung dengan tiang penyangga tiang duduk setinggi meter. Tiang-tiang tersebut tidak ditanamkan di tanah, melainkan didirikan dan diperkuat dengan baru-baru. Unik, kan? Pada ruangan, Rumah Kilapan terbagi atas dua ruang. Ruang pertama beralaskan tanah dan biasanya digunakan untuk memasak dengan tungku. Sementara ruang berikutnya digunakan untuk melakukan aktivitas hingga beristirahat. Uniknya, ruangan-ruang tersebut tidak memiliki sekat. Pun misal ada, sekat yang digunakan adalah dari alat dapur atau peralatan pertanian dan pertukangan. Tetapi karena zaman semakin modern, kini beberapa Rumah Kilapan sudah memiliki sekat dari kayu. Lihat Juga 7 Gambar & Keunikan Rumah Adat Sumatera Barat Rumah Tatahan Sumber celticstown Berbeda dengan Rumah Kilapan, Rumah Tatahan adalah Rumah Adat Sumsel yang memiliki ukiran. Proses pengukiran ini disebut tatahan, yang mana dilakukan oleh ahli dan memakan waktu cukup lama. Rumah Tatahan berbentuk rumah panggung, memiliki tiang penyangga setinggi meter. Kayu yang digunakan adalah tembesu atau kelat. Kayu ini sangat kuat hingga bisa menopang Rumah Tatahan berpuluh-puluh tahun. Kalau dari segi jumlah ruang dan fungsi, Rumah Tatahan memiliki jumlah dan fungsi yang sama dengan Ruang Kilapan. Rumah Kingking Sumber aminama Rumah adat dari Sumatera Selatan terakhir adalah Rumah Kingking. Rumah Kinging banyak digunakan Suku Pasemah. Sama seperti Rumah Kilapan, rumah ini menggunakan tiang duduk untuk penopangnya. Kalau dari bentuk, Rumah Kinging berbentuk bujung sangkar. Atapnya disebut Gelumpai, terbuat dari bambu yang dibelah dua. Jumlah ruangan Rumah Kinging sama seperti yang lain. Pertama untuk memasak dan kedua untuk aktivitas hingga istirahat. Baca Juga Penjelasan Rumah Adat Maluku Beserta Arsitektur dan Filosofinya Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi yang memiliki beragam bentuk rumah adat yang memiliki makna filosofi, sejarah dan keunikannya yang mencerminkan Indonesia kaya akan nilai dan kaya akan keanekaragaman budayanya. Sumatera Selatan dikenal dengan provinsi yang memiliki beragam suku dan budaya yang unik dan eksotis. Selain itu, Sumatera Selatan memiliki banyak jenis tarian daerah yang mengesankan. Namun, Sumatera Selatan tidak hanya dikenal dengan tariannya saja, akan tetapi dengan rumah adatnya yang unik dan memiliki nilai budaya banyaknya suku maupun budaya inilah yang menyebabkan Sumatera Selatan memiliki banyak rumah adat. Masing-masing rumah adat yang ada di Sumatera Selatan memiliki keunikan dan fungsinya tersendiri. Ada berbagai macam rumah adat yang dapat Anda temui dan sayang jika terlewatkan, apabila Anda berkunjung ke Sumatera sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga budaya kita, salah satunya adalah rumah adat yang menjadi ciri khas suatu daerah. Rumah adat tentu warisan budaya yang harus kita lestarikan. Oleh karena itu, perlu pengetahuan tentang rumah adat apa saja yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Berikut adalah ulasan mengenai rumah-rumah adat yang ada di Sumatera Rumah Adat Tatahan2. Rumah Adat Padu Kingking3. Rumah Adat Ulu4. Rumah Adat Cara Gudang5. Rumah Adat Limas6. Rumah Adat Kilapan7. Rumah Adat Rakit1. Rumah Adat TatahanImage Credit adat ini dimiliki oleh suku asli Sumatera Selatan, tepatnya oleh Suku Pasemah. Rumah adat ini juga digunakan untuk bersemah, selain itu kata tatahan di rumah adat ini dapat diartikan sebagai pahatan. Rumah adat ini mempunyai nilai yang sangat tinggi dari segi budaya. Uniknya, rumah adat ini lebih mengutamakan bentuk pahatan, dibanding dengan rumah adat yang menggunakan Adat Tatahan memiliki bahan dasar utama bangunan yang terbuat dari kayu. Kayu yang biasa digunakan berasal dari jenis kayu kelat dan kayu tembesu. Tiang pada rumah adat ini umumnya setinggi sekitar m dengan bentuk yang kokoh dan kuat. Ada 2 bagian ruangan utama yang ada di rumah adat ini. Bagian ruangan tersebut adalah bagian ruangan tengah, dan bagian memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda. Ruangan yang berada di bagian tengah umumnya digunakan sebagai ruang untuk tamu ataupun ruangan untuk berkumpul bersama keluarga. Sedangkan pada bagian depan, terdapat ruangan yang memiliki tungku untuk memasak dan berfungsi sebagai Rumah Adat Padu KingkingImage Credit adat selanjutnya di Provinsi Sumatera Selatan adalah Rumah Adat Padu Kingking. Rumah adat ini berbentuk rumah panggung. Rumah Adat Padu Kingking merupakan rumah adat yang dimiliki Suku Pasemah. Bahan utama dari bangunan rumah adat ini berasal dari kombinasi berupa kayu dan umum, rumah adat ini berbentuk bujur sangkar, dimana atapnya dibagi menjadi dua. Bagian atap pada Rumah Adat Padu Kingking dinamakan gelumpai. Gelumpai ini tersusun dengan rapih dan di buat dari potongan-potongan bambu. Tiang penyangga pada bangunan adat ini juga merupakan tiang duduk. Tiang duduk hanya menempel di atas tiang yang seperti ini menyebabkan rumah adat rentan terhadap gerakan tanah yang diakibatkan oleh bencana alam. Rumah Adat Padu Kingking memiliki ruangan yang hampir menyerupai Rumah Adat Tatahan. Ada 3 bagian ruangan di Rumah Adat Padu Kingking ini. Ketiga ruangan tersebut terdiri dari ruangan di bagian depan dan bagian tengah, serta bagian Rumah Adat UluImage Credit adat selanjutnya yang dimiliki oleh Sumatera Selatan adalah Rumah Adat Ulu. Rumah Adat Ulu ini terletak di daerah sekitar hulu Sungai Musi, Sumatera Selatan. Kata Ulu berasal dari sebutan uluan, dimana kata ini mempunyai arti pedesaan. Selain berarti pedesaan, uluan ini juga kata yang umum untuk digunakan sebagai sebutan bagi penduduk-penduduk yang berada di Sungai Adat Ulu memiliki bentuk menyerupai balok atau kotak. Bahan utama yang digunakan pada bangunan ini adalah kayu. Bagian bawah rumah adat ini ditopang menggunakan kayu jenis unglen. Kayu jenis unglen memiliki bentuk yang kuat dan kokoh, sehingga dapat bertahan lama dan awet. Rumah berbentuk panggung ini memiliki atap yang Adat Ulu memiliki bagian teras. Bagian teras disebut juga garang. Teras atau garang pada rumah adat ini ada 2 bagian dan terletak di bagian belakang maupun depan. Bagian teras tidak tertutup naungan atap. Bagian teras biasanya digunakan para penduduk untuk mengeringkan perabotan-perabotan rumah tangga. Bagian tangga dihiasi dengan atap dan digunakan untuk Rumah Adat Ulu memiliki beberapa aturan, yaitu rumah wajib dibangun dari bagian hulu ke hilir dan rumah di bangun harus ke arah bagian depan aliran air. Hal ini menyebabkan bagian hulu dihuni oleh masyarakat yang lebih dulu membangun rumah adat di sana atau penduduk yang memiliki umur lebih tua dalam keluarganya. Sedangkan bagian hilir diduduki keturunan lebih Adat Ulu dapat dimiliki oleh rakyat biasa maupun para bangsawan. Akan tetapi dari segi undakan, terdapat perbedaan antara kedua rumah adat ini. Rumah Adat Ulu yang dimiliki oleh rakyat biasa hanya memiliki 1 undakan atau bahkan tidak ada. Sedangkan untuk rumah adat para bangsawan, rumah adatnya memiliki undakan, umumnya sebanyak 3 Rumah Adat Cara GudangImage Credit adat selanjutnya adalah Rumah Adat Cara Gudang. Rumah adat ini merupakan rumah adat yang dimiliki Suku Palembang. Kata gudang sendiri, berasal dari bentuk bangunan yang memanjang seperti gudang. Rumah Adat Cara Gudang ini dapat digunakan untuk tempat hasil panen masyarakat maupun hunian. Rumah ini memiliki atap menyerupai rumah adat limas, namun tidak rumah ini seperti panggung dan memanjang dengan tiang setinggi 2 m. Bahan utama dari bangunan rumah adat ini adalah kayu. Kayu yang digunakan berasal dari kayu jenis tembesu, unglen, maupun petanang. Kayu-kayu ini digunakan karena selain kuat, juga kokoh. Rumah adat Cara Gudang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian belakang, bagian tengah, serta bagian belakang memiliki ruangan yang difungsikan sebagai ruang dalam, dapur, maupun kamar. Bagian tengah memiliki ruangan yang difungsikan sebagai ruangan bagi tamu terhormat atau berusia lanjut. Sedangkan, bagian depan memiliki ruangan yang difungsikan untuk tempat istirahat, berkumpul, maupun digunakan sebagai tempat untuk mengadakan acara Rumah Adat LimasImage Credit adat yang satu ini memiliki bentuk atap yang menyerupai bangun ruang limas dan memiliki bangunan berundak/bertingkat. Lantai yang bertingkat-tingkat sering dinamakan Bengkilas. Umumnya tamu undangan diterima di lantai kedua atau di bagian teras. Nama Rumah Adat Limas, disebut juga Rumah rumah adat yang hampir mirip juga ditemukan di Malaysia, salah satunya di Johor. Bangunan rumah adat di bangun dengan arah rumah mengarah ke timur serta barat atau seperti arah matahari akan terbit maupun terbenam. Bahan utama bangunan ini sebagian besar menggunakan kayu. Kayu yang digunakan berbeda-beda. Bagian pintu, lantai, dan dinding digunakan kayu tiang menggunakan kayu jenis unglen dan kayu seru digunakan sebagai kerangka bangunan. Rumah limas sering digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat, sehingga memiliki ruangan yang luas. Rumah ini memiliki tiang penyangga setinggi m dan ada 5 ruangan di rumah adat ini, yaitu jogan, pagar tenggulung, gegajah, kekijing ke-3, dan kekijing digunakan untuk tempat berkumpulnya para lelaki. Pagar tenggulung digunakan sebagai tempat bersantai bersama keluarga. Selanjutnya, ruang gegajah, ruangan ini berfungsi sebagai ruang penerima tamu kehormatan dan sebagai pelaminan jika ada kekijing ke-3, digunakan sebagai ruangan tempat menerima tamu di acara adat. Sedangkan ruang kekijing ke-4 berfungsi sebagai ruangan untuk para tamu yang lebih tua, berkerabat dekat, datuk/dapunto. Rumah adat ini berasal dari Rumah Adat KilapanImage Credit adat lainnya yang ada di Provinsi Sumatera Utara adalah Rumah Adat Kilapan. Rumah adat ini dimiliki oleh Suku Pasemah. Suku Pasemah ini merupakan salah satu suku asli yang berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Berbeda dengan rumah adat lainnya, Rumah Adat Kilapan tidak memiliki ukiran di bagian dalam maupun luar rumah. Rumah ini terlihat sederhana namun Adat Kilapan memiliki tinggi tiang yang berkisar m. Tiang tersebut hanya menempel di atas batu, sehingga tidak menyentuh permukaan tanah. Hal Ini menyebabkan tiang penyangga ini disebut juga tiang dengan rumah adat lainnya, untuk bagian sendi bangunan, digunakan rotan sebagai sambungannya. Rotan menyambungkan masing-masing potongan kayu dengan kokoh. Umumnya Rumah Adat Kilapan ini tidak memiliki sengkar. Sengkar di sini dapat dsiartikan sebagai tetapi, saat ini Rumah Adat Kilapan sudah ditambahkan juga dengan sekat. Sekat ini difungsikan untuk memisahkan ruangan. Berdasarkan sekatnya, ruangan dibagi menjadi 3 ruangan di Rumah Adat Kilapan ini. Ruangan tersebut, yaitu ruangan atas sengkar, ruangan bawah, dan ruangan Rumah Adat RakitImage Credit adat ini berasal dari Palembang. Rumah adat ini dapat ditemukan di sungai Komering, Musi, dan Ogan. Uniknya, bangunannya berada di permukaan air. Sesuai namanya, rumah adat ini menyerupai rakit. Potongan bambu maupun kayu disusun sedemikian rupa, hingga membentuk rakit. Kumpulan potongan bambu ini biasa disebut lanting. Lanting inilah yang menjadi bagian dasar rumah adat ini berbentuk persegi panjang yang hampir menyerupai bujur sangkar. Rumah adat ini mempunyai 2 pintu yaitu pintu mengarah tengah sungai dan pintu mengarah tepi sungai. Tiang dipasang pada sudut rumah dan disambungkan ke tombak dengan erat menggunakan rotan. Tombak tersebut ditancapkan di tebing-tebing sungai agar tidak penduduk akan menuju daratan maka mereka dapat menggunakan jembatan. Sedangkan rumah adat yang satu dengan rumah adat lainnya dihubungkan dengan menggunakan perahu. Selain sebagai tempat tinggal, kegunaan lain dari rumah adat ini adalah untuk melakukan perdagangan, sebagai tempat penginapan, atau dijadikan gudang tempat ulasan beberapa rumah adat yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Ulasan ini diharapkan menjadikan kita sebagai negara yang kaya akan kebudayaan, sudah sepatutnya bagi kita untuk lebih peduli pada warisan budaya. Salah satunya adalah dengan mengetahui dan menjaga kearifan budaya yang kita miliki.

rumah tradisional sumatera selatan tts